RSS

Prestasi

01 Des

A. Pengertian Prestasi

Sebelum membicarakan pengertian prestasi belajar, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan pengertian belajar. Dalam hal ini Ngalim Purwanto (1992: 85) mengemukakan pendapat mengenai pengertian belajar yaitu sebagai berikut:

  1. Belajar merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk.
  2. Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti perubahan-perubahan yang terjadi pada diri seorang bayi.
  3. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan itu harus merupakan akhir dari pada suatu periode waktu yang cukup panjang. Berapa lama periode itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berbulan-bulan ataupun bertahun-tahun.
  4. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian maupun psikis.

Sementara itu Slameto (1995: 2) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tungkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Sedangkan Sardiman  A.M. (1996: 231) berpendapat  bahwa belajar sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psikofisik untuk menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya, yang berarti menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

Hal ini senada dengan Witherington yang dikutif oleh Usman Effendi dan Juhaya S. Praja (1989: 103) bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam kepribadian, sebagaimana yang dimanfaatkan dalam perubahan penguasaan pola-pola respon atau tingkah laku yang baru, yang ternyata dalam perubahan keterampilan kebiasaan, kesanggupan dan pemahaman.

Dalam hal ini Moh. Uzer Usman (1999: 34) memberikan batasan belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu lainnya serta individu dengan lingkungannya, sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses usaha atau interaksi yang dilakukan individu untuk memperoleh sesuatu yang baru dan perubahan keseluruhan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman itu sendiri. Perubahan tersebut akan nampak dalam penguasaan pola-pola respons yang baru terhadap lingkungan berupa keterampilan, kebiasaan, sikap, pengetahuan, kecakapan dan sebagainya.

Sedangkan pengertian prestasi di sini, bila ditinjau dari segi bahasa prestasi itu berasal dari bahasa Belanda yaitu prestase. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang memiliki arti hasil usaha (Zainal Arifin, 1991: 2) hal ini senada dengan pendapat Nana Sudjana (1990:22)  prestasi adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dan dalam belajar, prestasi merupakan hasil raihan usaha dalam mempelajari suatu ilmu yang lazimnya ditunjukkan dengan perolehan nilai tes. Sementara itu, Poerwadarminta (1974:768) memberikan istilah bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai.

Pada prinsipnya pengungkapan hasil belajar ideal, meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses belajar siswa (Muhibbin Syah, 1995:150). Namun pengungkapan hasil belajar melalui tiga aspek psikologis manusia yang menurut Bloom terdiri dari ranah kognitif (ranah cipta), ranah afektif (ranah rasa) dan ranah psikomotor (ranah karya). Ketiga ranah tersebut sulit dilakukan dalam rangka mengukur hasil belajar, tetapi kita dapat mengukur aspek-aspek tersebut apabila telah diketahui indikator-indikator dari jenis-jenis prestasi tersebut di atas.

Pengungkapan hasil belajar yang berorientasi pada kemampuan intelektual atau menekankan ranah cipta seseorang disebut sebagai pengungkapan prestasi. Menurut Nana Sudjana (1995:49-50) hasil belajar tersebut akan nampak dalam perubahan tingkah laku, yang secara teknik dirumuskan dalam sebuah pernyataan melalui tujuan pengajaran ranah kognitif merupakan ranah terpenting dalam belajar, yang menurut Muhibbin Syah (1995: 82) ranah kognitif merupakan ranah kejiwaan yang berkedudukan pada otak dan merupakan sumber sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya.

Dengan demikian, prestasi dapat dipahami sebagai hasil yang dicapai siswa dalam mata pelajaran tertentu yang disimbolkan dalam bentuk nilai atau angka. Prestasi ini diperoleh dari keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Jadi, antara belajar dengan prestasi merupakan kesatuan yang bulat, karena tidak akan ada prestasi jika tidak ada proses belajar, dan belajar itu sendiri pada dasarnya merupakan proses untuk mencapai prestasi

B. Indikator  Prestasi

Prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam memberikan andil terhadap hasil belajar. Hal ini dapat terungkap setelah diketahui indikator-indikator dari prestasi belajarnya, yang meliputi tiga ranah, ketiga ranah tersebut adalah kognitif, afektif dan psikomotor. Namun, dalam penelitian ini penulis menspesifikasikan hanya pada prestasi kognitif saja.

Tipe (indikator) hasil belajar kognitif berdasarkan teori Bloom yang dikutip oleh Uzer Usman (2000:34) meliputi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di bawah ini mengenai indikator-indikator dalam prestasi kognitif sebagai berikut:

1. Ingatan

Ingatan mengacu kepada kemampuan mengenai atau mengingat materi yang sudah dipelajari dari yang sederhana sampai pada teori yang sukar. Yang penting adalah kemampuan mengingat keterangan dengan benar. Cara pengungkapannnya dapat melalui pertanyaan, tugas dan tes.

Tipe hasil belajar ini termasuk tipe tingkat rendah jika dibandingkan dengan tipe-tipe lainnya. Namun demikian, tipe ini merupakan prasyarat untuk menguasai atau mempelajari tipe hasil belajar selanjutnya.

2. Pemahaman

Tipe hasil belajar pemahaman lebih tinggi satu tingkat dari tipe hasil belajar pengetahuan hafalan. Pemahaman memerlukan kemampuan menangkap makna atau arti dari sesuatu konsep. Oleh karena itu, diperlukan adanya hubungan atau peraturan antara konsep dengan makna yang ada dalam konsep tersebut.  Ada tiga macam pemahaman yang sudah umum berlaku.

Pertama, adalah pemahaman terjemahan, yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung didalamnya misalnya, memahami kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, mengartikan lambang negara dan lain-lain.

Kedua, adalah pemahaman penafsiran, misalnya memahami grafik, menghubungkan dua konsep yang berbeda, membedakan yang pokok dengan yang bukan pokok. Dan

Ketiga, adalah pemahaman ekstrapolasi, yakni kesanggupan melihat dibalik yang tertulis, tersirat dan tersurat, meramalkan sesuatu atau memperluaskan wawasan. Kata-kata operasional untuk merumuskan tujuan instruksional dalam bidang pemahaman antara lain, membedakan, menjelaskan, meramalkan, menafsirkan, memperkirakan, memberi contoh, mengubah, membuat rangkuman, menuliskan kembali serta menuliskan dengan kata-kata sendiri.

3. Penerapan

Penerapan mengacu kepada kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi yang baru dan menyangkut penggunaan aturan prinsip. Misalnya, memecahkan suatu masalah dengan menggunakan suatu rumus tertentu (Tabrani Rusyan, 1989: 22).

Tingkah laku untuk merumuskan tujuan instruksional pada aplikasi ini, yang menurut Nana Sudjana (1989:51) adalah dengan menggunakan kata-kata menghitung, memecahkan, mendemonstrasikan mengungkapkan, menjalankan, menggunakan, menghubungkan, mengerjakan, mengubah, menunjukan proses serta mengurutkan uraian dan lain-lain.

4. Analisis

Analisis adalah merupakan pemeriksaan dan penilaian secara teliti, indikatornya yaitu dapat menguraikan, dapat mengklarifikasikan atau dapat memilah-milah (Muhibbin Syah, 1995:151) cara mengevaluasikannya adalah dengan memberikan tes tertulis dan pemberian tugas.

W.S. Winkel mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar adalah kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adakalanya kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan atau relasi antara bagian-bagian tersebut.

Dari pernyataan-pernyataan di atas, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan hasil belajar analisis adalah kesanggupan memecahkan, mengurai suatu integrasi (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsusr atau bagian-bagian yang mempunyai tingkatan analisis. Analisis merupakan hasil belajar yang kompleks yang memanfaatkan unsur tipe hasil belajar sebelumnya, yakni pengetahuan, pemahaman dan aplikasi. Analisis dapat diperlukan bagi para siswa untuk memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi, yaitu sintesis dan evaluasi.

5. Sintesis

Dalam hal ini Nana Sudjana (1985:52) mengemukakan bahwa sintesis adalah lawan analisis, bila pada analisis tekanan pada kesanggupan menguraikan suatu integritas menjadi bagian yang bermakna, sedangkan pada sintesis adalah kesanggupan menyatukan unsur atau bagian menjadi satu intergritas. Dalam sintesis ini memerlukan kemampuan hafalan, pemahaman, aplikasi dan analisis. Pada tahapan berfikir secara sintesis adalah berfikir devergent sedangkan berfikir analisis adalah berfikir konvergent.

Dengan sintesis dan analisis maka berfikir kreatif untuk menemukan  sesuatu yang baru (inovatif) akan lebih mudah dikembangkan. Beberapa tingkah laku operasional biasanya tercermin dalam kata-kata, mengkategorikan, menghubungkan, menghimpun, menyusun, mencipta, merancang, mengkonstruksi, mengorganisasi kembali, merevisi, menyimpulkan, mensistematisasi dan lain-lain.

6. Evaluasi

Istilah evaluasi menurut Ahmad Tafsir (1992:39) adalah tindakan yang dilakukan untuk mengetahui hasil pengajaran pada khsusunya, hasil pendidikan pada umumnya. Tipe hasil belajar ini dikategorikan paling tinggi karena terkandung didalamnya semua hasil belajar ranah kognitif.

Sementara W.S. Winkell (1996:247) menjelaskan bahwa yang dimaskud hasil belajar evaluasi adalah kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, selaras dengan pertanggungjawaban pendapat tersebut, yang didasarkan pada kriteria tertentu.

Tingkah laku operasional dilukiskan dalam kata-kata, menilai, membandingkan, mempertimbangkan, menyarankan, mengkritik, menyimpulkan, mendukung, serta memberikan pendapat dan lain-lain.

C. Faktor-faktor Yang dapat Menumbuhkan Prestasi  Belajar

Dalam mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan para ahli pendidikan senantiasa memperbincangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa.

Menurut Suharsimi Arikunto (1993:21) secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi hasil (prestasi) belajar dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu yang bersumber dari dalam diri manusia yang belajar, yang disebut sebagai faktor internal, dan faktor yang bersumber dari luar diri manusia yang belajar, yang disebut sebagai faktor eksternal. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor yang bersumber dari dalam diri manusia dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni faktor biologis dan faktor psikologis. Yang dapat dikategorikan sebagai faktor biologis antara lain usia, kematangan dan kesehatan, sedangkan yang dapat dikategorikan sebagai faktor psikologis adalah kelelahan, suasana hati, minat dan kebiasaan belajar.
  2. Faktor-faktor yang bersumber dari luar diri manusia yang belajar dapat diklasifikasikan menjadi dua juga, yakni faktor manusia (human) dan faktor non manusia seperti alam, benda dan lingkungan fisik.

Hal ini senada dengan pendapat Ngalim Purwanto (1995:102) yang berpendapat, bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat dibedakan menjadi dua golongan. Pertama, faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang kita sebut faktor individual. Kedua, faktor yang ada di luar individu yang kita sebut faktor sosial.

Jika kedua pendapat tersebut mengklasifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar pada dua bagian, maka Muhibbin Syah (1995:132) mengklasifikasikannya pada tiga bagian yaitu:

  1. Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa) yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani mereka.
  2. Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa) yakni keadaan/kondisi disekitar mereka.
  3. Faktor pendekatan belajar (approach to learning) yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi stategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

Dari dua pendapat di atas, maka dapat di simpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, baik dua maupun tiga bagian pada hakekatnya tidak jauh berbeda. Jika Suharsimi Arikunto menitik beratkan pada segi yang berkaitan dengan diri siswa, sementara  Muhibbin Syah lebih menekankan pada aspek interaksi belajar mengajar.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa selain pendekatan belajar yang diupayakan siswa dan kondisi mempengaruhi prestasi belajar siswa itu adalah bagaimana kondisi fisik dan psikologis siswa. Di antara kondisi psikologis yang mempengaruhi prestasi belajar suatu pelajaran ataupun hal lain yang berhubungan dengan belajar mengajar akan banyak mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Dengan demikian, faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap perstasi belajar siswa meliputi:

  1. Faktor internal
    • Aspek fisiologis/biologis, usia, kematanagan dan kesehatan
    • Aspek psikologis intelegensi, sikap, bakat, minat dan motivasi suasana hati
  2. Faktor eksternal
    • Manusia, lingkungan, sekolah dan sosial
    • Non manusia (non sosial), udara, suara, bau-bauan, sarana gedung sekolah, tempat tinggal dan sebagainya.
  3. Faktor pendekatan belajar.
    • Pendekatan tinggi (speculative and achieving)
    • Pendekatan sedang (analitic and deep)
    • Pendekatan rendah (reproductive and surface)

Dari uraian di atas, maka dapat di pahami bahwa proses belajar mengajar di sekolah merupakan kegiatan yang sanagt kompleks, berbagai faktor mempengaruhinya dan berbagai cara di tempuh untuk mencapai prestasi yang baik. Untuk mencapai prestasi di sekolah tidaklah mudah, karena bukan hanya ditunjang oleh intelegensi yang tinggi saja, akan tetapi banyak faktor yang mempengaruhinya.

Dalam proses belajar mengajar khususnya di kelas selalu terkait dengan guru, hubungan sosial, keadaan sekolah yang kesemuanya itu akan turut mempengaruhi terhadap proses belajar mengajar yang pada akhirnya akan mempengaruhi terhadap prestasi belajar siswa.

Walloohu A’lam

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Desember 2011 in Pendidikan

 

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: