RSS

Persepsi

29 Nov

A. Pengertian Persepsi

Persepsi menurut asal katanya berasal dari bahasa Inggris perception yang diartikan sebagai tanggapan (penerimaan langsung dari suatu serapan). Menurut Jalaludin Rachmat (1996:51) bahwa persepsi merupakan  pengalaman tentang objek, atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Jalaludin juga menambahkan bahwa persepsi memberikan makna pada stimulus indrawi (sensory stimulus).

Menurut Slameto (1995:102) persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi ke dalam otak manusia. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat indranya,  peraba, perasa, dan pencium.

Sedangkan Bimo Walgito (1990:53) mengatakan bahwa persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh pengindaraan yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptor-nya kemudian diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak dan terjadilah proses psikologi, sehingga individu menyadari apa yang ia lihat, ia dengar.

Berdasarkan dari pengertian-pengrtian persepsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan suatu tanggapan individu terhadap suatu objek yang diterima melalui proses, mengamati, memilih, mengoorganisasikan, menyimpulkan atau menginterprestasikan stimulus (rangsangan). Sehingga individu memperoleh pengertian tentang apa yang diamatinya. Disini jelas bahwa dalam persepsi ini, individu menggunakan indranya untuk menerima suatu peristiwa atau menyimpulkan data yang akan diproses melalui simpul syaraf sampai ke otak. Sehingga akan timbul ide atau norma yang dimiliki pribadi individu dan akhirnya terjadi kesadaran  atau keyakinan terhadap objek yang akan diamati.

  1. Ciri Persepsi

Proses terjadinya persepsi yang dilakukan oleh seseorang  dan orang lain terhadap sesuatu pada hakekatnya memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, persepsi  yang dilakukan oleh seseorang  memiliki ciri-ciri tertentu  sebagaimana yang diungkapkan oleh Slameto (1995:103-105):

1. Persepsi itu relatif  bukannya absolut.

Manusia bukannya instrumen ilmiah yang mampu menyerap segala sesuatu persis seperti keadaan sebenarnya. Dalam hubungannya dengan kerelatifan persepsi ini, dampak pertama dari suatu perubahan rangsangan dirasakan lebih besar dari pada rangsangan yang datang kemudian berdasarkan kenyataan bahwa persepsi itu relatif. Seorang guru dapat meramalkan dengan lebih baik persepsi dari siswanya untuk pelajaran berikutnya karena guru tersebut telah mengetahui lebih dahulu persepsi yang telah dimiliki oleh siswa dari pelajaran sebelumnya.

2. Persepsi itu relatif.

Maksudya seseorang hanya memperhatikan beberapa rangsangan yang ada disekelilingnya pada saat-saat tertentu. Ini berarti bahwa rangsangan yang diterima akan tergantung pada apa yang ia penah pelajari, apa yang pada suatu saat menarik perhatiaannya dan ke arah mana persepsi itu mempunyai kecenderungan.

3. Persepsi itu mempunyai tatanan.

Seseorang menerima rangsangan tidak dengan cara sembarangan, ia akan menerimanya dalam bentuk hubungan-hubungan atau kelompok-kelompok. Jika rangsangan yang dtang tidak lengkap ia akan melengkapinya sendiri sehingga hubungan itu menjadi jelas.

4. Persepsi dipengaruhi oleh harapan dan kesiapan (penerima rangsangan)

Harapan dan harapan penerima pesan akan menentukan pesan mana yang akan dipilih untuk diterima,  selanjutnya bagaimana pesan yang dipilih itu akan ditata dan demikian pula bagaimana pesan tersebut akan di-interprestasi-kan. Dalam pelajaran, guru dapat menyiapkan siswanya untuk pelajaran-pelajaran selanjutnya dengan cara menunjukan pada pelajaran pertama urutan-urutan kegiatan yang harus dilakukan dalam pelajaran tersebut. Jika pada hari pertama guru mengajak berdo’a sebelum pelajaran dimulai maka dapat dipastikan bahwa pada hari-hari berikutnya siswa akan menanti guru untuk memulai dengan do’a sebelum pelajaran dimulai.

5. Persepsi seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau kelompok lain dalam situasi yang sama.

Perbedaan persepsi ini dapat ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individual, perbedaan dalam kepribadian, perbedaan dalam sikap atau perbedaan dalam motivasi. Bagi seorang guru ini berarti bahwa agar dapat diperoleh persepsi yang kurang lebih sama dengan persepsi yang dimiliki oleh kelas lain yang telah diberikan materi pelajaran yang serupa, guru harus menggunakan metode yang berbeda. Artinya, bahwa tidak ada suatu pun metode yang akan mampu memberikan hasil yang sama pada kelas atau bahkan orang yang berbeda atau pada waktu yang berbeda.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Sebagaimana telah diketahui bahwa pesepsi menurut Devidoff yang dikutif oleh Bimo Walgito (1990:53) adalah stimulus yang diindra oleh individu diorganisasikan kemudian diinterprestasikan atau menyimpulkan sesuatu sehingga dapat dimengerti tentang apa yang diindra itu, maka individu akan dipengaruhi beberapa faktor.

Dalam hal ini  Jalaludin Rakhmat (1994:52) mengemukakan faktor-faktor itu sebagai berikut:

1. Perhatian (attention)

Perhatian adalah proses mental ketika stimulus atau rangsangan menjadi menonjol dalam kesdaran pada saat stimulus lainya melemah. Jadi perhatian akan terjadi bila kita mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indra kita.

2. Faktor fungsional

Faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagi kerangka tujuan yaitu bahwa seseorang akan memberi makna pada suatu objek melalui alat indranya berdasarkan pengetahuan yang berhubungan dengan objek yang dipersepsi.

3. Faktor struktural

Mempengaruhi persepsi maksudya bahwa seseorang akan tertarik jika ada kesatuan ide atau sifat kelompoknya.

Hal ini senada dengan Sarlito Wirawan Sarwono (1986:43) yang mengemukakan bahwa faktor yang memepengaruhi persepsi adalah sebagai berikut:

  1. Perhatian yaitu kemampuan untuk menangkap rangasangan yang datang dari luar dirinya, khususnya  terhadap rangsangan menarik dirinya.
  2. Set adalah harapan atau kesiapan seaeorang untuk menerima rangsangan yang akan timbul.
  3. Kebutuhan atau tingkat kebutuhan yang sesaat maupun menetap pada diri sesorang akan mempengaruhi persepsi.
  4. Sistem nilai tentunya yang berlaku di masyarakat.
  5. Ciri-ciri kepribadian.
  6. Gangguan kejiwaan.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 November 2011 in Pendidikan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: