RSS

Selayang Pandang

29 Nov

Dalam dunia pendidikan manusia merupakan objek utama yang dijadikan sasaran dari pendidikan itu sendiri. Sehingga pendidikan dengan manusia merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan. Manusia diciptakan oleh Allah swt. sebagai makhluk yang memiliki predikat mulia dan istimewa (Al-Isra’ ayat 70). Dan diciptakan dalam bentuk yang bagus dan seimbang (At-Tiin ayat 4). Untuk mempertahankan kedudukannya yang mulia dan bentuk fisik yang bagus dan seimbang itu, Allah swt memperlengkapinya dengan akal dan perasaan yang memungkinkan manusia bisa menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain itu juga manusia bisa membudayakan ilmu yang dimilikinya[1].

Dilihat dari sifatnya bisa dikatakan manusia itu memiliki sifat yang unik, hal ini berdasar pada perbandingan antara manusia dengan makhluk-makhluk lain. Yang membuat manusia unik, dikarenakan manusia memiliki akal budi dan kemauan yang keras. Memang, bila kita bandingkan antara tubuh manusia dengan tubuh hewan tingkat tinggi, ternyata tubuh manusia itu lemah. Misalnya gajah dapat mengangkat balok yang berat, harimau dapat berjalan cepat, burung dapat terbang, buaya dapat berenang cepat. Dengan akal budi dan kemauan yang kuat, semua perilaku yang menonjol dari hewan-hewan tersebut, bisa dilakukan oleh manusia. Terbukti manusia bisa mengangkat barang puluhan ton dengan menciptakan mesin-mesin pengangkat, ingin berlari cepat diciptakan mesin kendaraan roda dua dan roda roda empat (motor dan mobil), ingin terbang diciptakanlah kapal supersonik, dan sebagainya[2].

Manusia sebagai makhluk yang berpikir (Hayawaan An-Nathiq) dibekali rasa ingin tahu. Dan rasa ingin tahu inilah yang mendorong manusia untuk mengenal, memahami dan menjelaskan gejala-gejala alam, serta berusaha untuk memcahkan masalah yang dihadapi. Serta dari rasa ingin tahu sehingga menimbulkan dorongan untuk berusaha memahami dan memecahkan masalah inilah, yang menyebabkan manusia dapat mengumpulkan pengetahuan[3].

Faktor terbesar yang membuat manusia itu mulia dan istimewa adalah karena ia memiliki ilmu. Sebab dengan ilmu ia bisa hidup senang dan tenteram, dapat meguasai alam ini, serta bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya kepada sang kholiq Allah swt. Karena manusia mulia dan istimewa, maka Allah memberikan beban tanggungjawab untuk memlihara dan mengembangkan alam lingkungan seluruhnya. Dan dengan diberikannya beban tanggungjawab inilah manusia menyandang gelar kholifah dengan tugasnya untuk mengurus dan memelihara alam semesta raya ini[4].

Uraian di atas, merupakan unsur-unsur proses perkembangan kehidupan yang dialami oleh manusia, sehingga manusia bisa dikatakan makhluk yang mulia dan istimewa. Sehingga manusia terlahir memiliki fitrah bisa dididik dan bisa mendidik. Sebab dengan fitrah inilah manusia mampu menjadi kholifah di alam semesta raya ini. Dengan kata lain, bahwa manusia berkategori makhluk paedagogik.

Fitrah manusia ini merupakan potensi yang tidak akan mengalami perubahan, artinya bahwa manusia terus dapat berpikir, merasa dan bertindak serta terus dapat berkembang. Meskipun demikian, kalau potensi fitrah ini tidak dikembangkan, niscaya ia akan kurang bermakna dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan dan pengembangan itu seyogianya dilakukan dalam bentuk usaha dan kegiatan pendidikan. Teori nativis dan empiris yang dipertemukan oleh Kerschenteiner dengan teori konvergensi-nya telah membuktikan, bahwa manusia itu adalah makhluk yang dapat ‘dididik’ dan dapat ‘mendidik’. Meskipun dilahirkan seperti kertas putih, bersih belum berisi apa-apa dan meskipun ia lahir dengan pembawaan yang dapat berkembang sendiri, namun perkembangan itu tidak akan maju kalau tidak melalui proses tertentu, yaitu proses pendidikan[5].

Pendidikan muncul semenjak proses diciptakannya manusia pertama yakni Adam (Al-Adam). Sebagaimana tertuang dalam sejarah peradaban islam, bahwa proses penciptaan adam adalah hasil diskusi antara Allah swt. Dengan Iblis. Karena itu kehadiran Adam di surga, membuat Iblis menjadi marah. Kemarahan Iblis itu diekspresikan ke dalam bentuk ketidak patuhan atau pembangkangan atas perintah Allah swt. Ketika Iblis diperintahkan untuk sujud hormat dan memberikan penghargaan kepada Adam. Dari kisah ini ada tiga alasan yang dikemukakan Iblis atas pembangkangannya. Pertama, Iblis menganggap bahwa ia lebih senior, keberadaannya lebih dulu daripada Adam sehingga ia tidak mau menghargai dan menghormati Adam; Kedua, iblis merasa telah lama ibadah dan mengabdi kepada Allah swt. dan hanya Allah-lah yang patut dihargai dan dihormati, dan ketiga, Iblis merasa lebih kuat karena diciptakan dari api sedangkan Adam diciptakan dari tanah. Dari kisah pembangkangan Iblis ini bisa dipetik adanya pembelajaran langsung dari Allah swt. kepada Iblis untuk tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya, dalam rangka pembelajaran pemberian rasa hormat dan penghargaan kepada makhluk lain. Dan pernyataan ini mengilustrasikan bahwa antara manusia dan pendidikan tidak bisa dipisahkan.

Proses penciptaan Adam dengan terselenggarakannya pendidikan adalah beriringan. Karena itu manusia dengan pendidikan bagaikan setali mata uang, keduanya saling mendukung, saling memberi dan saling ketergantungan (interdependent). Manusia tanpa pendidikan, ia seakan-akan tidak memiliki panduan dan pedoman hidup. Pada saat yang sama, pendidikan yang tidak diselenggarakan oleh manusia tidak akan terwariskan kepada generasi berikutnya atau bahkan sirna sama sekali dari muka bumi ini[6].

Dalam Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab I Pasal 1 dikemukakan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pengertian di atas, mengandung arti bahwa pendidikan itu suatu usaha penyadaran bukan pemaksaan dalam mewujudkan dua kegiatan, yakni mewujudkan suasana belajar dan melakukan proses pembelajaran, dengan memiliki target tujuan, yaitu menciptakan insan yang beriman, berpengetahuan, berakhlak mulia serta memiliki kecakapan dan keterampilan hidup (life skill).

Pada hakikatnya, pendidikan merupakan proses upaya meningkatkan nilai peradaban individu atau masyarakat dari suatu keadaan tertentu menjadi suatu keadaan yang lebih baik. Secara institutional peranan dan fungsnya semakin dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Karena itu keadaan suatu lembaga pendidikan di suatu daerah merupakan salah datu faktor penentu dalam upaya peningkatakn kualitas masyarakat di dareh tersebut. Sebab, melalui lembaga pendidikan akan dapat diketahui berkualitas atau tidaknya masyarakat; melalui lembaga pendidikan juga, akan dapat diketahui kemampuan dalam menilai dan kemauan masyarakat dalam memanfaatkan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Untuk jangka wktu tertentu, akan dapat diketahui bahwa bagi suatu bangsa yang dikendalikan oleh orang-orang yang berpendidikan, maka program pembangunannya akan berjalan sesuai dengan yang direncanakan[7].

Kehidupan manusia mempunyai hubungan erat dengan proses pendidikannya dan bahkan muncullah pendidikan yang dialami seseorang merupakan “in station life” orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, timbullah beberapa konsepsi yang diantaranya[8]:

  1. Pendidikan manusia dewasa ini merupakan masalah penting dan sulit. Sebab, masa depan seseorang sering disiapkan oleh yang bersangkutan melalui pendidikan sehingga menyebabkan pendidikan menjadi masalah pokok dan universal sifatnya bagi setiap orang.
  2. Pendidikan tradisional penuh tantangan. Sebab, kaum muda memandang bahwa pendidikan tradisional yang mereka terima sering dirasakan sebagai pendidikan yang dipaksakan dan mengundang bermacam-macam kritikan. Oleh karena itu, pendidikan tradisional perlu diadakan perubahan dan perubahan yang tepat untuk dilaksanakan menyangkut sistemnya.
  3. Pendidikan di negara yang berkembang meniru pendidikan asing. Hal ini disebabkan, karena negara-negra yang berkembang merupakan negara bebas jajahan, sehingga bagaimanapun juga pendidikan yang ada atau yang berlaku adalah penidikan asing, yang belum tentu sesuai, sehingga perlu adanya perubahan.
  4. Adanya anggapan yang keliru tentang pendidikan, bahwa pendidikan tidak perlu diperbaiki. Padahal, sementara negara ada yang berpendapat, bahwa mereka telah puas dengan pelaksanaan pendidikan yang dilaksanakan, karena yang berwenang tidak kuasa untuk menyatakan pendidikan yang benar atau salah.
  5. pada negara-negara maju ada rasa tanggung jawab terhadap proses pendidikan. Memang pada prinsipnya di negara-negara modern terhindar dari masalah yang ada dalam pendidikan, namun mereka menyadari penemuan ilmiah dan inovasi merupakan tuntutan yang semakin menesak untuk diikuti. Oleh karena itu, perkembangan dan kemajuan pendidikan dewasa ini dirsakan sebagai tanggung jawabnya ke arah tujuan yang dicita-citakan.
  6. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat menyebabkan kehancuran identitas manusia. Sebab disadari betul bahwa perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini merupakan suat realita dan dampaknya yang timbul mengakibatkan terjadinya diskriminasi baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang.

Seiring dengan uraian di atas, kemudian munculnya Konsep pendidikan multikultural, yang secara etimologis marak digunakan pada tahun 1950-an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah “multiculturalism” merupakan deviasi dari kata “multicultural” Kamus ini menyitir kalimat dari surat kabar Kanada, Montreal Times yang menggambarkan masyarakat Montreal sebagai masyarakat “multicultural dan multi-lingual”. Sedangkan wacana tentang pendidikan multikultural, secara sederhana pendidikan multikultural dapat didefenisikan sebagai “pendidikan untuk/tentang keragaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan”[9].

Secara generik, pendidikan multikultural memang sebuah konsep yang dibuat dengan tujuan untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbeda-beda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya. Salah satu tujuan penting dari konsep pendidikan multikultural adalah untuk membantu semua siswa agar memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat demokrasi-pluralistik serta diperlukan untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan bersama.

Hal ini sejalan dengan pendapat Paulo Freire[10], yang berpendapat bawha pendidikan bukan merupakan “menara gading” yang berusaha menjauhi realitas sosial dan budaya. Pendidikan menurutnya, harus mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan, bukan sebuah masyarakat yang hanya mengagungkan prestise sosial sebagi akibat kekayaan dan kemakmuran yang dialaminya. Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam dimensi lain, pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan, sejarah, prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard, 1991-1992). Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnic, ras, budaya, strata sosial dan agama[11].

Pendidikan multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan[12]:

–   Content integration, yakni mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar, generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu.

–   The Knowledge Construction Process, yakni Membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin);

–   An Equity Paedagogy, yakni Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras, budaya ataupun sosial.

–   Prejudice Reduction, yakni Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka;

–   Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik.

Dalam aktifitas pendidikan manapun, peserta didik merupakan sasaran (obyek) dan sekaligus sebagai subyek pendidikan. Oleh sebab itu dalam memahami hakikat peserta didik, para pendidik perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Setidaknya secara umum peserta didik memiliki lima ciri yaitu:

  1. Peserta didik dalan keadaan sedang berdaya, maksudnya ia dalam keadaan berdaya untuk menggunakan kemampuan, kemauan dan sebagainya.
  2. Mempunyai keinginan untuk berkembang ke arah dewasa.
  3. Peserta didik mempunyai latar belakang yang berbeda.
  4. Peserta didik melakukan penjelajahan terhadap alam sekitarnya dengan potensi-potensi dasar yang dimiliki secara individu.

Seperti halnya  di negara-negara yang menganut konsep demokratis seperti Amerika Serikat dan Kanada, bukan hal baru lagi. Mereka telah melaksanakannya khususnya dalam dalam upaya melenyapkan diskriminasi rasial antara orang kulit pulit dan kulit hitam, yang bertujuan memajukan dan memelihara integritas nasional. Di Amerika, sebagai contohnya muncul serangkaian konsep tentang pluralitas yang berbeda-beda, mulai dari melting pot sampai multikulturalisme. Sejak Columbus menemukan benua Amerika, berbagai macam bangsa telah menempati benua itu. Penduduk yang sudah berada di sana sebelum bangsa-bangsa Eropa membentuk koloni-koloni mereka di Amerika Utara, terdiri dari berbagai macam suku yang berbeda-beda bahasa dan budayanya. Tetapi di mata bangsa Anglo-Sakson yang menyebarkan koloni di abad ke-17, tanah di Negara baru itu ada kawasan tak bertuan dan bangsa-bangsa yang ditemui di benua baru itu tak lebih dari makhluk primitif yang merupakan bagian dari alam yang mesti ditaklukkan. Dari perspektif kaum Puritan yang menjadi acuan utama sebagian besar pendatang dari Inggris tersebut, berbagai suku bangsa yang dilabel secara generik dengan nama “Indian” adalah bangsa kafir pemuja dewa yang membahayakan kehidupan komunitas berbasis agama tersebut. Di sini terlihat bagaimana pandangan berperspektif tunggal yang datang dari budaya tertentu membutakan mata terhadap kenyataan keragaman yang ada[13].

Amerika Serikat ketika ingin membentuk masyarakat baru-pasca kemerdekaannya (4 Juli 1776) baru disadari bahwa masyarakatnya terdiri dari berbagai ras dan asal negara yang berbeda. Oleh karena itu, dalam hal ini Amerika mencoba mencari terobosan baru yaitu dengan menempuh strategi menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai baru yang dicita-citakan. Melalui pendekatan inilah, dari Sd sampai Perguruan Tinggi, Amerika Serikat berhasil membentuk bangsanya yang dalam perkembangannya melampaui masyarakt induknya yaitu Eropa. Kaitannya dengan nilai-nilai kebudayaan yang perlu diwariskan dan dikembangkan melalui sistem pendidikan pada suatu masyarakat, maka Amerika Serikat memakai sistem demokrasi dalam pendidikan yang dipelopori oleh John Dewey. Intinya adalah toleransi tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan bersama akan tetapi juga menghargai kepercayaan dan berinteraksi dengan anggota masyarakat[14].

Di Indonesia, pendidikan multikultural relatif baru dikenal sebagai suatu pendekatan yang dianggap lebih sesuai bagi masyarakat Indonesia yang heterogen, terlebih pada masa otonomi dan desentralisasi yang baru dilakukan. Pendidikan multikultural yang dikembangkan di Indonesia sejalan pengembangan demokrasi yang dijalankan sebagai counter terhadap kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Apabila hal itu dilaksanakan dengan tidak berhati-hati justru akan menjerumuskan kita ke dalam perpecahan nasional.

Menurut Azyumardi Azra[15], pada level nasional, berakhirnya sentralisme kekuasan yang pada masa orde baru memaksakan “monokulturalisme” yang nyaris seragam, memunculkan reaksi balik, yang bukan tidak mengandung implikasi-implikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan Indonesia yang multikultural. Berbarengan dengan proses otonomisasi dan dan desentralisasi kekuasaan pemerintahan, terjadi peningkatan gejala “provinsialisme” yang hampir tumpang tindih dengan “etnisitas“. Kecenderungan ini, jika tidak terkendali akan dapat menimbulkan tidak hanya disintegrasi sosio-kultural yang amat parah, tetapi juga disintegrasi politik.

Model pendidikan di Indonesia maupun di negara-negara lain menunjukkan keragaman tujuan yang menerapkan strategi dan sarana yang dipakai untuk mencapainya. Sejumlah kritikus melihat bahwa revisi kurikulum sekolah yang dilakukan dalam program pendidikan multikultural di Inggris dan beberapa tempat di Australia dan Kanada, terbatas pada keragaman budaya yang ada, jadi terbatas pada dimensi kognitif.

Penambahan informasi tentang keragaman budaya merupakan model pendidikan multikultural yang mencakup revisi atau materi pembelajaran, termasuk revisi buku-buku teks. Terlepas dari kritik atas penerapannya di beberapa tempat, revisi pembelajaran seperti di Amerika Serikat merupakan strategi yang dianggap paling penting dalam reformasi pendidikan dan kurikulum. Penulisan kembali sejarah Amerika dari perspektif yang lebih beragam meruapakan suatu agenda pendidikan yang diperjuangkan intelektual, aktivis dan praktisi pendidikan. Di Jepang aktivis kemanusiaan melakukan advokasi serius untuk merevisi buku sejarah, terutama yang menyangkut peran Jerpang pada perang dunia II di Asia. Walaupun belum diterima, usaha ini sudah mulai membuka mata sebagian masyarakat akan pentingnya perspektif baru tentang perang, agar tragedi kemanusiaan tidak terulang kembali. Sedangkan di Indonesia masih diperlukan usaha yang panjang dalam merevisi buku-buku teks agar mengakomodasi kontribusi dan partisipasi yang lebih inklusif bagi warga dari berbagai latarbelakang dalam pembentukan Indonesia. Indonesia juga memerlukan pula materi pembelajaran yang bisa mengatasi “dendam sejarah” di berbagai wilayah.

Model lainnya adalah pendidikan multikultural tidak sekedar merevisi materi pembelajaran tetapi melakukan reformasi dalam sistem pembelajaran itu sendiri. Affirmative action dalam seleksi siswa sampai rekrutmen pengajar di Amerika adalah salah satu strategi untuk membuat perbaikan ketimpangan struktural terhadap kelompok minoritas. Contoh yang lain adalah model “sekolah pembauran” Iskandar Muda di Medan yang memfasilitasi interaksi siswa dari berbagai latar belakang budaya dan menyusun program anak asuh lintas kelompok. Di Amerika Serikat bersamaan dengan masuknya wacana multikulturalisme, dilakukan berbagai lokakarya di sekolah-sekolah maupun di masyarakt luas untuk meningkatkan kepekaan sosial, toleransi dan mengurangi prasangka antar kelompok.

Untuk mewujudkan model-model tersebut, pendidikan multikultural di Indonesia perlu memakai kombinasi model yang ada, agar seperti yang diajukan Gorski, pendidikan multikultural dapat mencakup tiga hal jenis transformasi, yakni: (1) transformasi diri; (2) transformasi sekolah dan proses belajar mengajar, dan (3) transformasi masyarakat.

Menyusun pendidikan multikultural dalam tatanan masyarakat yang penuh permasalahan anatar kelompok mengandung tantangan yang tidak ringan. Pendidikan multikultural tidak berarti sebatas “merayakan keragaman” belaka. Apalagi jika tatanan masyarakat yang ada masih penuh diskriminasi dan bersifat rasis. Dapat pula dipertanyakan apakah mungkin meminta siswa yang dalam kehidupan sehari-hari mengalami diskriminasi atau penindasan karena warna kulitnya atau perbedaannya dari budaya yang dominan tersebut? Dalam kondisi demikian pendidikan multikultural lebih tepat diarahkan sebagai advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran dan bebas toleransi.

Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu: Pertama, tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan (education) dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan program-program sekolah formal. Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer mengembangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah.

Kedua, menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan kebudayaan dengan kelompok etnik adalah sama. Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. secra tradisional, para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial yang relatif self sufficient, ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus menerus dan berulang-ulang terlibat satu sama lain dalam satu atau lebih kegiatan. Dalam konteks pendidikan multikultural, pendekatan ini diharapkan dapat mengilhami para penyusun program-program pendidikan multikultural untuk melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik.

Ketiga, karena pengembangan kompetensi dalam suatu “kebudayaan baru” biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi, bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa uapaya-upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru. Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis. Keempat, pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi.

Dan Kelima, kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikotomi antara pribumi dan non-pribumi. Dikotomi semacam ini bersifat membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Kesadaran ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural berpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik.

Dalam konteks keindonesiaan dan kebhinekaan, kelima pendekatan tersebut haruslah diselaraskan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Masyarakat adalah kumpulan manusia atau individu-individu yang terjewantahkan dalam kelompok sosial dengan suatu tantangan budaya atau tradisi tertentu. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Zakiah Darajat yang menyatakan, bahwa masyarakat secara sederhana diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kubudayaan dan agama.

Dalam era reformasi, pendidikan yang berbasis moral sangat dibutuhkan demi mencapai manusia yang berakhlakul karimah. Hal itu dilatarbelakangi oleh semakin menurunnya nilai moral anak didik khususnya diperkotaan, dengan seiring munculnya tawuran antar pelajar, pergaulan bebas dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pihak sekolah yang dipimpin seorang Supervisor dalam hal ini Kepala Sekolah, harus selalu mengadakan kerjasama dengan tokoh masyarakat, yakni Dewan Sekolah. Dan dituntut peranannya untuk membawa sekolah ke arah yang lebih maju dalam meningkatkan nilai kualitas anak bangsa, yakni anak didik. Selain itu juga, hendaknya seorang supervisor harus pandai meneliti, mencari dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya. Sehingga, tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu bisa capai dan program-program bisa dilaksanakan semaksimal mungkin dapat dilaksanakan[16].

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa dunia pendidikan sekarang, dihadapkan pada tuntutan agar memproduk out-put pendidikan yang berdayaguna, dan memiliki budi pekerti yang luhur, sesuai dengan agama serta adat dan budaya bangsa Indonesia. Dalam hal ini, Sekolah yang merupakan sarana proses penempaan Sumber Daya Manusia tersebut, harus mempunyai visi dan misi yang mengarah ke sana, dan sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Jadi, dapat dipahami juga bahwa inti masyarakat adalah kumpulan besar individu yang hidup dan bekerja sama dalam masa relatif lama, sehingga individu-individu dapat memenuhi kebutuhan mereka dan menyerap watak sosial. Kondisi itu selanjutnya membuat sebagian mereka menjadi komunitas terorganisir yang berpikir tentang dirinya dan membedakan ekstensinya dari ekstensi komunitas. Dari sisi lain, apabila kehidupan di dalam masyarakat berarti interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Maka yang menjadikan pembentukan individu tersebut adalah pendidikan atau dengan istilah lain masyarakat pendidik.

Berdasarkan Uraian di atas, maka dalam melakukan kajian dasar kependidikan terhadap masyarakat harus mengacu pada dasar-dasar pendidikan itu sendiri. dan secara garis besar dasar-dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut[17]:

  1. Masyarakat tidak ada dengan sendirinya. Masyarakat adalah ekstensi yang hidup, dinamis, dan selalu berkembang.
  2. Masyarakat bergantung pada upaya setiap individu untuk memenuhi kebutuhan melalui hubungan dengan individu lain yang berupaya memenuhi kebutuhan.
  3. Individu-individu, di dalam berinteraksi dan berupaya bersama guna memenuhi kebutuhan, melakukan penataan terhadap upaya tersebut dengan jalan apa yang disebut tantangan sosial.
  4. Setiap masyarakat bertanggung jawab atas pembentukan pola tingkah laku antara individu dan komunitas yang membentuk masyarakat.
  5. Pertumbuhan individu di dalam komunitas, keterikatan dengannya, dan perkembangannya di dalam bingkai yang memnuntunya untuk bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya

Wal-hasil, bila penjelasan di atas ditarik di dalam dunia pendidikan, maka masyarakat sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian individu peserta didik. Sebab keberadaan masyarakat merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternatif untuk memperkaya pelaksanaan proses pendidikan. Untuk itu, setiap anggota masyarakat memiliki peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses pendidikan. Hal ini disebabkan adanya hubungan timbal balik antara masyarakat dan pendidikan. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam dunia pendidikan merupakan satu hal penting untuk kemajuan pendidikan.


[1]  Zakiah Drajat, dkk. Ilmu Pendidikan Agama Islam, Bulan Bintang, Jakarta. 1996 hal.3-4

[2] Drs. Maskoeri Jasin. Ilmu Alamiah Dasar, Untuk Perguruan Tinggi non Ekstra dan Umum. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada. 1997. Hal. 1-2.

[3] (Ibn Mas’ud & Joko Paryono, 1998: 9).

[4]  Ibid (Lihat Footnoote No. 1)

[5]     Ibid (Lihat Footnoote No. 1)

[6] Taqiyudin M., M.Pd. Sejarah Pendidikan, Melacak GeneologiPendidikan Islam di Indonesia.Bandung , Mulia Pers 2008 hal  37-38.

[7] Ibid (lihat Footnoote No.  6)

[8] Soelaiman Joesoef (1992:4-5)

[9] Muhaemin El-Ma’hady Multikulturalisme dan Pendidikan Multicultural, 2004

[10] Freire, Paulo, Pendidikan pembebasan, Jakarta, LP3S, 2000

[11] Ibid (lihat footnoote no. 9)

[12] James Banks (1994) Multicultural Eeducation: Historical Development,Dimension, and Practice. Review of Research in Education1993

[13] Ibid (lihat footnoote no. 9)

[14] Ibid (lihat footnoote no. 9)

[15] Azyumardi Azra IKA UIN Syarif Hidayatullah, Majalah: Tsaqafah: Mengagas Pendidikan Multikultural , Vol. I No:2, 2003

[16] M. Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung, PT Remaja Rosda Karya,  2002. hal. 115.

[17] Ibid (lihat Footnoote no. 11)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 29 November 2011 in Pendidikan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: