RSS

Tentang Suara Nurani Guru


Salam Perjuangan !

Panggil atau sebut saja saya WANGSA SUSENA,  itulah nama pemberian dari kedua orang tua saya, saya anak keempat dari empat bersaudara. Saya lahir dari keluarga petani, yang hidup serba pas-pasan, dan selain sebagai petani ayah saya juga bekerja di kantor desa menjadi aparat desa, walau pendidikannya hanya sampai Sekolah Rakyat (SR) kalau sekarang setara dengan SD. Tapi beliau punya jabatan sebagai Juru Tulis, sehingga panggilan yang melekat pada ayah saya sampai beliau wafat adalah “Pak Ulis” (Alloohummaghfirlahuu, warhamhu, wa ‘Aafihi Wa’fu ‘Anhu Amin). Sedangkan Ibu saya hanya sebagai ibu rumah tangga yang sangat telaten mengurus anak-anaknya termasuk saya.

Sekarang alhamdulillah saya bersyukur kepada Allah, saya diberi amanat menjadi seorang guru di sebuah lembaga pendidikan di daerah Subang sejak tahun 2003, walau amanat ini amat sangat berat, kenapa ? karena yang namanya Guru adalah sosok yang harus menjadi figur sentral, sosok yang harus di-Gugu dan di-Tiru, harus menjadi suritauladan, juga harus menjadi orang tua kedua dari para peserta didiknya, dan selain itu juga tugas guru adalah membimbing, membina dan mengarahkan para siswanya ke arah yang positif. wal hasil guru diharapkan bisa membentuk karakter siswa sebagai peserta didiknya, menjadi insan yang prestatif, kreatif, dan inovatif. Jadi, bukan hanya sekedar mentransfer ilmu saja.

Oleh karenanya, saya itu baru “jadi guru” dan sedang belajar menjadi “guru jadi” walau sudah 10 tahun lebih saya menjadi tenaga pengajar belum juga tercapai. Besar harapan bahwa seorang pendidik melihat anak didiknya menjadi insan yang handal, insan yang berguna bagi dirinya, keluarganya, nusa, bangsa, agama serta negaranya. amin.

Saya lahir pada tahun 1979 di salah satu Kabupaten di wilyah Provinsi Jawa Barat, yakni Kabupaten Subang, tepatnya di wilayah Pantai Utara atau lebih dikenal dengan Pantura. Daerah yang dekat dari pesisir pantai laut utara, yang tercitrakan dengan watak keras karena dipengaruhi keadaan iklimnya daerahnya panas. Walau demikian, keramah-tamahan warganya masih dipengaruhi oleh adat budaya sunda, yang tercermin dari perilakunya yang “someah hade ka semah, rapekan, darehdeh, silih asah, silih asih, silih asuh dan sifat gotong royongnya” masih sangat kental ketara, malah menjadi sebuah slogan bagi kabupatennya, yakni “Rakyat Subang Gotong Royong, Subang Maju”.yang awalnya adalah “Subang Berseri (Bersih Sehat, Rapi dan Indah)” dan “Karya Utama Satya Nagara”.

Pada Tahun 1998 saya pergi merantau ke Bandung ibukotanya Jawa Barat, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi setelah saya tamat sekolah di Madrasah Aliyah, dan saya memilih Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Gunung Djati Bandung (Sekarang UIN SGD Bandung) sebagai tempat menimba ilmu dengan memilih jurusan Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah. konon kabarnya jurusan ini bakal mencetak guru-guru yang membidangi keagamaan Islam yang kelak bergelar Sarjana Pendidikan Islam atau S.Pd.I. dan Alhamdulillah pada tahun 2004 saya bisa menyeselaikan Program Studi S-1 dengan Tugas akhir yang berjudul “Pengaruh Latar Belakang Kehidupan Beragama dalam Keluarga Siswa hubungan dengan minat mereka pada bidang studi Pendidikan Agama Islam” (Penelitian di SLTPN 2 Pusakanagara Subang).

Sekarang saya hidup beserta dengan istri dan kedua anak saya di Kampung Sidodadi Kelurahan Pasirkareumbi, tepatnya di wilayah perkotaan Kabupaten Subang. Demikian salam perkenalan saya !  mohon maaf bila kurang berkenan,

Salam Hormat

Wangsa Urang Subang Pituin

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: